16:26 WIB
Sabtu, 23 Agustus 2014
Rabu, 17 April 2013 13:13 WIB

Tokoh Dayak Kalteng Somasi Murid Eyang Subur

Maya Selviani
Eyang Subur (Jaringnews/Courtesy You Tube)
Eyang Subur (Jaringnews/Courtesy You Tube)

3 kali 24 jam Ferry harus meminta maaf, atau akan ada tindakan hukum negara dan hukum adat

PALANGKARAYA, Jaringnews.com - Ucapan murid Eyang Subur, Ferry dalam acara debat di salah satu TV swasta Senin (15/4), mengusik ketentraman masyarakat Dayak, terutama di Provinsi Kalimantan Tengah. Pasalnya dalam tayangan itu, Ferry melibatkan suku dengan mengucapkan kalimat "jangan teriak-teriak ya, Anda bukan Dayak!" yang membuat masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) cukup "panas".

Sejumlah tokoh adat dan masyarakat dari berbagai daerah segera mengadakan pertemuan di rumah Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng di Jalan Pierre Tendean, tidak lama usai berita tersebar. Terlihat utusan organisasi Gerakan Pemuda Dayak Indonesia (GPDI), Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad), Ikrar-Madani dan KMI-KK.

Menyikapi hal itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng, Sabran Achmad mengatakan bahwa ucapan Ferry itu telah melukai perasaan warga Dayak yang disamakan dengan hal yang tidak baik. Untuk itu Sabran menuntut Ferry meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukannya tersebut.
 
"Kami memberi waktu 3 kali dalam 24 jam agar Ferry meminta maaf, atau akan ada tindakan hukum negara dan hukum adat," tegasnya di Palangkaraya, Selasa (16/4) kemarin.

Bahkan menurut Sabran, permintaan maaf Ferry tidak cukup hanya dengan minta maaf melalui media, namun Ferry juga harus datang ke Kalimantan untuk menyampaikannya secara langsung. Bahkan Sabran mengaku bahwa pihaknya saat ini tengah mencari alamat rumahnya untuk menemui Ferry secara langsung.

Diutarakan Sabran bahwa tak hanya DAD saja yang mensomasi Ferry namun berbagai organisasi adat dan masyarakat melalui DAD Kalteng  juga memutuskan melayangkan somasi kepada Ferry. Mereka meminta murid Eyang Subur ini mencabut kata-katanya melalui media elektronik dan cetak secara nasional. Dalam waktu 3 hari usai pertemuan, isi surat somasi agar dilaksanakan atau akan ada konsekuensi hukum positif negara dan adat. Tidak hanya DAD Kalteng, ujar Sabran, DAD Kalimantan Barat juga sedang merapatkan barisan untuk melakukan langkah serupa.

(Mvi / Mys)
Diurutkan berdasarkan:
Kamis, 18 April 2013 10:48 WIB
Sudarisman Sofian

Saya yang bukan orang Dayak, tidak dapat menerima ucapan yang tidak pantas itu. Harus di proses secara hukum yang adil, segera

Kamis, 18 April 2013 10:54 WIB
adjo

Gak usah bawa2 suku deh.. Loe ngehina Dayak berarti loe ngehina Indonesia jg.. Gw bkn org Dayak tp gw ngerasa ini udah sangat keterlaluan.. Dayak adalah bagian dari Indonesia berarti loe udah ngehina seluruh masyarakat Indonesia.

Kamis, 18 April 2013 11:49 WIB
melan

waduh-waduh, emosi murid subur ga kebendung nih,, sampai-sampai lidah terpeleset nyebut-nyebut suku ku segala.. Cari gara-gara ye??!!, coba datang ke kalimantan terlebih dahulu sebelum anda menilai kami orang kalimantan,, setelah anda bertamu ke tempat kami silahkan anda memberi penilaian terhadap suku kami seperti apa. Bukankah ada pepatah 'tak kenal maka tak sayang'. Salam dari ANAK DAYAK NGAJU di KALIMANTAN TENGAH!!

Kamis, 18 April 2013 12:26 WIB
Armen Kalteng

Di negri ini keliatannya kita orang dayak terlalu sering dilecehken....Kalau sampai kesabaran masyarakat dayak habis tidak menutup kemungkinan akan ada negara baru yg bernama Republik Borneo....

Jumat, 19 April 2013 11:35 WIB
kenyalang gayu

Ferry harus bertanggungjawab atas perkataannya. datang ke tanah kalimantan dan meminta maaf kepada masyarakat Dayak.

Sabtu, 20 April 2013 02:14 WIB
Borneo

harus di proses secara hukum dan Adat,yang namanya very,itu sama saja merendahkan martabat org2 dayak.. beri pelajaran setimpal biar yg lain gk berani macam2 jga

Kamis, 25 April 2013 17:47 WIB
ekonando

gimana apakah udah ada permintaan resmi dari murid eyang suburr sampe sekarang belum ada

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini