04:17 WIB
Selasa, 25 November 2014
Jumat, 13 September 2013 14:05 WIB

Polisi Tetapkan Satu Orang Tersangka Bentrok Puger

Arif Purba
Polisi terlihat siaga di Puger (Foto: Ist)
Polisi terlihat siaga di Puger (Foto: Ist)

Tersangka berinisial Rm dijerat pasal berlapis.

JEMBER, Jaringnwes.com - Setelah memeriksa 15 orang warga yang melihat kejadian bentrok Puger, akhirnya polisi menetapkan satu orang tersangka yang diduga terlibat aksi pengeroyokan dan berakibat kematian Eko Mardi Santoso.

Saat memberikan keterangan pers di Jember, Jumat (13/9), Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Kombes Awi Setiyono, menyatakan, polisi telah menetapkan tersangka berinisial Rm (42), warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Tersangka Rm diduga terlibat pengeroyokan yang menyebabkan Eko Mardi tewas di pantai Puger.

"Status tersangka berinisial Rm telah ditetapkan Kamis (12/9) tengah malam sekitar jam sepuluhan," ujarnya. Tersangka dibidik pasal berlapis, yakni Pasal 170 KUHP ayat 3 tentang tindak kekerasan yang menyebabkan seseorang meninggal, Pasal 160 KUHP tentang mengajak atau menghasur orang untuk melakukan tindak kekerasan dan Pasal 351 KUHP ayat 3 tentang penganiayaan yang membuat seseorang meninggal.

Jika terbukti dalam persidangan pengadilan, tersangka Rm terancam pidana maksimal 12 tahun penjara. Dalam aksi pengeroyokan itu, tersangka Rm tidak sendiri dan ditemani oleh sejumlah kawannya yang hingga saat ini kabur dan belum tertangkap.

Ditanya hasil penyelidikan pengrusakan pesantren Darussolihin, Kombes Awi mengatakan masih belum ada penetapan tersangka. "Penyidikan pengrusakan pesantren itu masih butuh waktu.

Kombes Awi menampik keras atas tudingan sebagian pengamat bahwa polisi kecolongan atas kasus bentrok Puger yang menewaskan seorang warga dan rusaknya pesantren serta lebih dari 30 unit sepeda motor milik santri.

“Tidak ada kecolongan. Semua sudah kami deteksi,” sanggah Awi. Bahkan, sejak awal pihak kepolisian sudah mendeteksi konflik yang mungkin terjadi. Termasuk ketika kelompok Habib Ali hendak mengadakan pawai 17 Agustusan pada Rabu (11/9) lalu.

Menurut Kombes Awi, saat itu, tak kurang 500 orang polisi telah melarang pawai keluar pesantren dan polisi menyarankan pawai digelar di dalam lingkungan pesantren. Bahwa kemudian terjadi pembangkangan santri dan muncul perlawanan warga itu semua kembali kepada masyarakat. "Yang pasti polisi tidak kecolongan," tegasnya.

Kerusuhan di Puger, sebenarnya bukan mutlak menjadi tanggung jawab pihak kepolisian, namun juga masyarakat secara umum. Kerusuhan yang terjadi, menurutnya merupakan bentuk ketidak patuhan masyarakat kepada aparat dan juga hukum yang berlaku. “Sejak awal pelaksanaan pawai memang sudah tidak diberi izin,” jelasnya.

Selanjutnya terjadi penyerangan sekelompok orang ke pondok pesantren Darussolihin yang berakibat rusaknya sebagian bangunan dan puluhan motor santri. Serangan ke pesantren itu dibalas dengan pengeroyokan Eko Mardi yang akhirnya tewas di pantai Puger. "Jadi terlalu dini jika menuding polisi telah kecolongan sehingga terjadi kasus bentrok massa di Puger," pungkasnya.

(Arp / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini