07:20 WIB
Selasa, 25 November 2014
Rabu, 10 Juli 2013 15:45 WIB

BLSM Salah Sasaran

Rhobi Shani
Suasana pengambilan uang BLSM di Kantor Pos Jepara. (Jaringnews/Rhobi Shani)
Suasana pengambilan uang BLSM di Kantor Pos Jepara. (Jaringnews/Rhobi Shani)

"Datanya bisa dibilang salah sasaran,” ujar Saeroji.

JEPARA, Jaringnews.com - Sejumlah petinggi (kepala desa) di Kabupaten Jepara menilai, uang kompensasi atas naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak mampu, salah sasaran.

Pasalnya, ratusan warga miskin yang semestinya menerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) malah gigit jari. Banyak masyarakat tergolong mampu dan orang sudah meninggal dunia mendapatkan uang sebesar Rp 300 ribu untuk dua bulan itu.

Petinggi Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Saeroji menyampaikan, banyak warganya yang tidak mampu tidak menerima BLSM. Tetapi warganya yang tergolong mampu malah mendapatkan BLSM. Dari 773 penerima, dari hitungan Saeroji, lebih dari 150 nama semestinya tidak berhak menerima BLSM.

“Dengan adanya BLSM petinggi dibuat pusing, karena datanya bisa dibilang salah sasaran,” ujar Saeroji kepada Jaringnews.com, Selasa (9/7).

“Kepada warga yang tidak menerima saya hanya bisa menyampaikan jika daftar penerima BLSM itu yang membuat pusat. Karena faktanya memang begitu,” imbuh Saeroji.

Hal senada juga disampaikan Petinggi Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Santoso.  Dari 17 RT di wilayahnya, terdapat enam RT yang jumlah penerima di masing-masing RT tidak lebih dari lima orang.

Kondisi data tersebut dinilai Santoso sangat tidak tepat. Pasalnya warga di RT 1 hingga RT 6 Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara semestinya banyak yang berhak menerima BLSM, tapi tidak mendapatkan uang kompensasi kenaikan BBM itu.

“Sebetulnya data yang tepat justru data Raskin, kalau data yang dikeluarkan untuk bantuan BLSM ini salah sasaran. Ada yang orangnya sudah meninggal tetapi masih tercatat mendapat bantuan,” ujar Santoso.

“Dengan adanya BLSM, citra petinggi di mata masyarakatnya kembali tercoreng, karena masyarakat tahunya desa yang menentukan nama-nama penerima BLSM,” tukas Santoso.

(Rhs / Nky)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini