10:57 WIB
Rabu, 26 November 2014
Senin, 8 April 2013 12:16 WIB

Ini Kisah dari Tentara Kopassus Dibunuh Sampai Membunuh (2)

Chandra Harimurti
Karikatur penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta (Jaringnews/Supriyanto Siswowiharjo)
Karikatur penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta (Jaringnews/Supriyanto Siswowiharjo)

Dukunganpun mengalir, biarkan dunia tahu dan itu ada efek jera bagi mereka yang arogan

JAKARTA, Jaringnews.com - Hari-hari pasca pembunuhan 4 tahanan LP Cebongan yang diberondong puluhan peluru, dugaan terus muncul. Siapa yang membunuh? Apa motifnya? LSM dan analis berspekulasi, mereka kompak mengarah jika anggota Kopassus yang membunuh.

Berikut lanjutan dari hari ke hari kasus penembakan 4 tahanan itu:

25 Maret
Kepolisian Daerah Jogjakarta periksa 45 saksi, mereka penghuni atau Narapidana LP dan petugas LP. Ada 33 narapidana dan 12 petugas LP. Berdasarkan keterangan dari para saksi, pelaku menggunakan penutup wajah, menggunakan rompi hitam, dan sebagian pelaku mengenakan sepatu kets serta sepatu PDL.

26 Maret
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendatangi Lapas Kelas IIB Cebongan. Mereka mengumpulkan data lapangan. Dugaan sementara, berdasarkan durasi kejadian yang cepat, senjata yang digunakan serta keterangan para saksi, pelaku penyerangan adalah orang-orang terlatih.

Sejumlah fakta yang dikumpulkan Komnas HAM antara lain gerombolan tersebut mengambil barang-barang inventaris lapas seperti monitor komputer, CCTV dan server. Gerombolan itu juga merampas telepon seluler petugas lapas.

Selain itu, Komnas juga menemukan tindak kekerasan yang dialami petugas lapas.  Ada  8 petugas lapas yang dianiaya pelaku dari mulai ditendang, dipopor, dipukul, bahkan diseret. Selanjutnya, Komnas HAM juga menemukan adanya trauma yang dialami 31 tahanan lapas penghuni sel 5A Blok Anggrek. Trauma pertama, mereka melihat langsung eksekusi. Kedua, mereka ketakutan setelah dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi.

28 Maret
Komnas HAM telah menyelesaikan penyelidikan kasus penyerangan di LP Cebongan. Dalam penyelidikan selama tiga hari itu, Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi pelanggaran HAM serius dalam insiden tersebut. Pelangaran HAM serius yakni melakukan penyerangan saat seseorang sedang menjalani proses hukum atas tindakan pidana.

29 Maret
Markas Besar TNI Angkatan Darat menilai ada indikasi keterlibatan anggotanya dalam kasus penyerangan LP Cebongan, Sleman. Untuk itu, Mabes AD membentuk tim investigasi yang berjumlah 9 orang. Tim ini diketuai oleh Wandanpom AD Brigjen TNI Unggul K. Tim tersebut terdiri dari Mabes, Kopassus, POM Kodam, dan POM Korem untuk mengintegrasikan investigasi.

1 April
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Laksamana Agus Suhartono mengatakan jika nantinya dari hasil penyelidikan diketahui ada anggota TNI yang terbukti melakukan penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, maka akan diadili di Pengadilan Militer.

3 April
Sekitar pukul 09.00, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Mereka akan menemui 31 saksi penembakan itu. LPSK menemui setiap saksi dan mewawancarai mereka untuk memastikan bentuk-bentuk pendampingan yang akan diberikan. Sampai 3 April, total saksi yang telah diperiksa Polda DI Yogyakarta sebanyak 46 orang.

4 April
TNI AD mengakui bahwa oknum Grup II Kopassus Kartosuro adalah pihak penyerang empat tahanan terkait pembunuhan Serka Santoso. Anggota Kopassus itu membunuh dilatari jiwa korsa dan bela kehormatan kesatuan. Mereka balas dendam.

5 April
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut pelaku pembunuhan 4 tahanan LP Cebongan sebagai kesatria. Dia mengapresiasi para pembunuh mengaku dan bersedia diberi sanksi apa pun. SBY menilai penyerangan Cebongan merupakan bentuk semangat korsa dari prajurit TNI. SBY juga menyebut para anggota kopassus pembunuh itu membunuh para preman.

6 April
Panglima Kodam (Pangdam) IV Diponegoro Mayor Jenderal (Mayjen) Hardiono Saroso dicopot dari jabatannya. Posisi Pangdam IV Diponegoro itu kemudian diisi oleh Mayjen Sunindyo, yang saat ini masih menjabat sebagai Asisten Personel (Aspers) Kepala Staf TNI AD (Kasad) Mayjen Sunindyo.

Selain itu, Mabes Polri mencopot jabatan Brigjen Sabar Rahardjo sebagai Kapolda DIY. Namun Mabes Polri membantah pencopotan itu dilandasi insiden berdarah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Cebongan. Penncopotan itu berdasarkan hasil rapat Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) Polri yang dilangsungkan pada 5 April. Sabar dimutasi sesuai Telegram Rahasia Kapolri no. KEP: 234/IV/2013.

7 April
Bukannya menghujat anggota Kopassus yang menjadi pembunuh 4 tahanan, dukungan terhadap mereka pun beredar. Dukungan tersebut beredar melalui pesan singkat (SMS) dan BlackBerry Messenger (BBM). Pesan berantai yang disinyalir berasal dari anggota TNI mengingatkan agar tragedi Lapas Cebongan tersebut jangan hanya dilihat dari apa yang telah dilakukan. Tetapi harus dilihat kepada siapa para prajurit ini melakukannya.

Berikut kutipan lengkap BBM berantai yang beredar di masyarakat:

"PESAN KORSA" Kami menyatakan: rasa BANGGA dan HORMAT serta Siap memimpin GERAKAN JIWA KORSA untuk menjaga keutuhan MORIL PRAJURIT TNI (AD). Apapun  yang terjadi yang  dilakukan oleh adik adik kita di Kartosuro bagi saya mereka adalah Pahlawan Pemberani dan ini adalah ASET POTENSI kemampuan Prajurit terlatih untuk membunuh bukan untuk dibunuh. Biarkan dunia tahu dan itu ada efek Jera bagi mereka yang arogan serta menzholimi TNI.

Jangan melihat apa yang dilakukan tetapi mari kita lihat kepada siapa mereka melakukan. Empat pelaku pengeroyokan yang menewaskan satu orang aggota KPS itu adalah penjahat yang dipelihara dan kepergok takut modus sindikat kejahatannya terbongkar.  

Para pemimpin TNI tidak perlu takut kebakaran jenggot tidak perlu bicara citra TNI, tetapi semua dan terbelenggu dalam ketakutan. Hukum Rimba terkadang sangat dibutuhkan ketika Hukum Tinta sudah menjadi ladang orang.  

Jadi bagi saya Reaksi Prajurit adalah Prestasi dan Potensi Kemampuan Skil Prajurit (RAIDS) perlu dikembangkan serta disiapkan ketika diperlukan oleh Negara bukan malah dibinasakan. Malam ini juga Hitungan detik Pesan Amanat ini hrs sampai ke 1.000 Prajurit. Terimakasih Salam Korsa buat Pahlawanku disana. ! KOMANDO...!!.
 

(Chm / Mys)
Diurutkan berdasarkan:
Senin, 8 April 2013 18:56 WIB
Alsinisi

Walau sy bukan prajurit sy turut menyampaikan salam KORSA dan hidup KOMANDO, tergores dihati ini kalimat pendek dr sms berantai yg menyebutkan bahwa hukum rimba kadang diperlukan karena hukum tinta yang sudah jadi permainan para mafia, para penguasa, badut2 politik, bandar narkoba bahkan jg para penegak hukum yg telah berlumur dusta dng memperjual belikan hukum. Bila diperlukan mari kita galang dukungan utk KOPASSUS agar mau mengeksekusi para preman2 biadab, koruptor2, badut2 politik, dan para penegak hukum hitam yg suka menawarkan jual beli kasus, pasal dan vonis. Sekali lagi hidup KOPASSUS.

Selasa, 9 April 2013 02:49 WIB
Surya

Ayo bpk atau abg kopasus jgn menyerah jgn menyesali apa yang terjadi tapi liat bnyak yang mendukung kalian biar smw tau kekuatan tni ad biar smw tidak menganggap remeh tni ada kelak aku akan seperti kalian pertahan kan jiwa korsa kita horass .. . . . . ?

Rabu, 10 April 2013 01:02 WIB
sonbilly

salut buat kopassus, memang benar yang dikatakan pesan tersebut, banyak yang berbicara soal HAM, tapi kalau anggota kopassus yang dibunuh preman tersebut adalah saudara kita, mau bilang apa kita?!!! mari berantas premanisme dan dukung kopassus, buat polri, jangan setengah2 memberantas premanisme....

Rabu, 10 April 2013 21:18 WIB
SOMEONE

maju trs kopassus berantas premanisme, mau jadi apa negara ini kalo preman banyak berkeliaran hapus hukum premanisme harapan pada kopasusku

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini