16:36 WIB
Rabu, 22 Oktober 2014
Senin, 8 April 2013 12:06 WIB

Ini Kisah dari Tentara Kopassus Dibunuh Sampai Membunuh (1)

Chandra Harimurti
Karikatur penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. (Jaringnews/Supriyanto Siswowiharjo)
Karikatur penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. (Jaringnews/Supriyanto Siswowiharjo)

Mengancam akan mengebom LP

JAKARTA, Jaringnews.com - Nama Lembaga Permasyarakatan (LP) Cebongan di Sleman Yogyakarta mendadak tenar setelah ada 4 orang tahanan tewas terbunuh. Istimewanya, mereka dibunuh oleh 11 anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Mereka dibunuh dengan tragis dengan dibrondong puluhan peluru. Gaya membunuh 11 anggota Kopassus ini seperti di film-film Hollywood. Jaringnews mengurut dari awal tragedi ini terjadi.

19 Maret
Terjadi pengeroyokan terhadap Anggota Kopassus berpangkat Sersan Kepala (Serka) Heru Santoso di tempat hiburan Hugo's Cafe, Jalan Adisucipto, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka yang disangkakan mengeroyok adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Pengeroyokan terhadap Heru terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Perkelahian terjadi di halaman cafe. Namun karena tak kunjung diselesaikan, keributan kembali terjadi di dalam cafe. Beberapa orang pun berupaya melerai. Heru tewas setelah ditikam dengan pecahan botol di bagian dadanya. Pagi menjelang siang, Kepolisian Daerah (Polda) DI Yogyakarta berhasil menangkap empat orang itu. Mereka langsung ditahan di Polsek Sleman.

20 Maret
Keempat tersangka dipindahkan ke tahanan Polda DI Yogyakarta.

22 Maret
Keempat tahanan bersama beberapa tahanan lainnya dipindahkan ke LP Cebongan, Sleman, pukul 11.00. Kuasa hukum tersangka mengaku tidak mengetahui pemindahan tersebut. Kepolisian beralasan, ruang tahanan Polda DIY sedang dalam renovasi.

Pihak LP sempat mempertanyakan alasan pemindahan tersangka. Pihak LP telah memiliki firasat buruk karena 4 dari 11 tersangka yang dipindahkan adalah tersangka pembunuh Kopassus.

Saat pihak LP mempertanyakan alasan pemindahan, jawaban hanya datang dari seorang kepala unit (kanit) yang menyatakan Polda DIY akan memberikan pengamanan di LP. Hingga malam hari, LP tersebut hanya dijaga sekitar 8 orang. Pemindahan tahanan secara cepat itu pun dinilai janggal.

23 Maret
Keempat tersangka pembunuh anggota Kopassus ditembak mati. LSM Hak Asasi Manusia KONTRAS membeberkan hasil investigasi penembakan itu. Sekitar pukul 00.30, dua petugas di meja piket LP didatangi seseorang yang menunjukkan surat dan mengaku dari Polda DIY. Orang tersebut mengatakan ingin berkoordinasi tentang tahanan yang baru dilimpahkan ke LP Cebongan. Petugas piket kemudian langsung memanggil kepala keamanan. Kepala keamanan itu langsung bergegas ke pintu depan untuk menanyakan maksud kedatangan.

Saat pintu dibuka, sudah ada sekitar 17 orang dengan wajah ditutup dan menenteng senjata laras panjang. Mereka yang mengenakan pakaian bebas itu memaksa untuk masuk ke LP. Mereka menodongkan senjata dan beberapa di antaranya menjaga atau menyandera penjaga LP. Kelompok itu juga mengancam akan mengebom LP.

Mereka langsung menanyakan di mana letak tahanan yang baru saja dilimpahkan oleh Polda DIY. Penjaga LP yang mengaku tidak tahu langsung dianiaya dan dipaksa memberi tahu. Petugas LP diseret secara paksa untuk menujukkannya. Akhirnya, seorang petugas memberi tahu para tahanan berada di sel 5a. Kelompok bersenjata mengambil paksa kunci sel dan meminta petugas LP untuk mengantar ke sel.

Setelah sampai di sel 5a, terdapat 35 tahanan, termasuk empat tersangka pembunuhan anggota Kopassus. Sesorang itu langsung menanyakan siapa empat orang yang menjadi tersangka pembunuhan anggota Kopassus. Terjadi kepanikan dan kegaduhan di dalam sel tersebut hingga empat orang itu terpisah.

Seseorang berbadan tegap itu pun langsung menembak empat tersangka hingga tewas di hadapan tahanan lainnya. Pelaku penembakan empat tersangka hanya satu orang. Dia menggunakan AK 47.

23 Maret siang harinya, Wamenkum HAM Denny Indrayana bertemu dengan Menko Polhukam Djoko Suyanto membicarakan insiden penembakan empat tahanan di Lapas Cebongan, Sleman, DIY. Dari pembicaraan itu, ada dugaan pelaku penembakan adalah anggota TNI. Di hari itu juga Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mendatangi LP Cebongan. Di sana dijaga ketat Provost.

Saat itu masih dugaan anggora TNI yang  membunuh, dugaan itu dibantah Panglima Kodam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Hardiono Saroso. Tidak hanya membantah anggotanya yang menembak mati empat tahanan Lapas Cebongan, Sleman, DIY. Dia bahkan memastikan senjata yang digunakan pelaku bukan dari aparat, apalagi senjata standar TNI AD.

Bersambung...


 

(Chm / Mys)
Diurutkan berdasarkan:
Selasa, 4 Maret 2014 10:43 WIB
Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH.

BIAR KAPOK PREMAN LAKNAT ITU MATI DI TANGAN KOPASSUSS BIAR JADI PELAJARAN NDAK MACEM2 SM KOPASUSS!!!!! LEMBAGA HAM CUMAK NGOMONG THOK!!!! NDAK TAU DUDUK PERSOALAN IKUTAN NIMBRUNG!!! UDALAH PARA PREMAN YG MAMPUS ITU BUKAN MANUSIA, NDAK PERLU HAM-HAM'AN..!!!!

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini