03:39 WIB
Sabtu, 1 November 2014
Rabu, 29 Agustus 2012 10:18 WIB

Spanduk Anti-Syiah Bertebaran di Jember

Arif Purba
Spanduk anti Syiah di Puger, Jember. (Jaringnews/Arif Purba)
Spanduk anti Syiah di Puger, Jember. (Jaringnews/Arif Purba)

Dikhawatirkan bakal melahirkan aksi kerusuhan seperti di Sampang.

JEMBER, Jaringnews.com - Dari luar, wilayah hukum Kepolisian Sektor Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, terkesan tenang dan adem ayem. Namun, di balik itu semua, kawasan Jember selatan itu memendam bara perseteruan kelompok Syiah dan Sunni. Terlebih, pada Mei 2012 lalu terjadi bentrok antar dua kelompok itu.

Bara terpendam itu terindikasi dengan bertebarannya spanduk yang membentang di badan jalan di kawasan Kecamatan Puger. Spanduk ukuran 300 X 80 cm itu bertuliskan "Peraturan GUbernur Jawa Timur Nomor 55 Tahun 2012 Tanggal 23 Juli 2012 Tentang Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur dan Keputusan MUI Jawa Timur No.KEP 01/SKI-MUI/JTM/2012 tentang Syi'ah SEsat Dan Menyesatkan" yang diapit logo MUI Jatim dan burung garuda.

Kapolsek Puger, AKP Mastur, menyatakan, dari tujuh lembar spanduk itu, lima diantaranya telah diturunkan anggota Satpol PP Jember. "Tapi, hingga sekarang masih ada dua spanduk lagi yang terpampang di kawasan Tempat Pelelangan Ikan dan di Lapangan Puger. "Mudah-mudahan tim Satpol PP sebagai lembaga penegak perda yang memiliki kewenangan mencopot spanduk, akan segera mencopot dua spanduk tersisa itu," harap ASP Mastur, Selasa (28/8).

Mastur khawatir, munculnya spanduk yang berisi ajakan provokoatif itu bakal melahirkan aksi kerusuhan seperti yang pernah terjadi pada pada 5 Mei 2012 lalu. Dimana dua orang terluka dalam kejadian pertikaian yang melibatkan dua kelompok Sunni dan Syiah. Bahkan, saat itu pihak kepolisian siaga penuh mengamankan Puger siang dan malam karena muncul ancaman akan turunnya massa yang lebih banyak dari luar daerah untuk menyerang pondok pesantren asuhan Habib Ali di Desa Puger Kulon.

"Oleh karena iitu, kami bersama anggota muspika dan forum pimpinan daerah terus melakukan koordinasi agar peristiwa kerusuhan di Sampang, Madura tidak sampai merembet ke Jember," harap AKP Mastur.

Secara terpisah, Kepala Bakesbanglinmas (Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) Kabupaten Jember, Widi Prasetyo, membenarkan adanya spanduk bernada provoktaif tersebut. Menurut Widi, dia mendapat laporan ihwal spanduk itu telah terpasang sejak sebelum memasuki bulan puasa lalu."

Tinggal dua spanduk dengan logo Majelis Ulama Indonesia dan Nahdlatul Ulama yang masih terpasang. Dari hasil rapat dengar pendapat di DPRD Jember, diketahui bahwa MUI dan NU tidak pernah secara resmi memohon pemasangan spanduk," jelasnya.

Sementara, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jember, Ahmad Halim Subahar, menegaskan, dirinya menyesalkan logo MUI dibawa-bawa oleh sang pemasang spanduk itu. Menurutnya, MUI tidak boleh terlibat dalam konflik di masyarakat Puger. Ia menyerahkan masalah spanduk tersebut kepada Satpol PP. "Bukan tugas MUI dan NU menurunkan spanduk," katanya.

(Arp / Nky)
Diurutkan berdasarkan:
Sabtu, 1 September 2012 07:41 WIB
m maulana

Inilah hsl "pembodohan" dari segelintir ulama yg picik, sampai aturan yg salah (fatwa MUI daerah, pertrn Gub) dipampang di dpn umum. Urusan kementrian agama bukan wewenang aparat daerah TOLOL ! ! ! bukan dng membakar, menghujat, dan membunuh, Allah menerima amal kita , ,

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini