11:20 WIB
Kamis, 21 Agustus 2014
Minggu, 20 Januari 2013 07:37 WIB

Terbelit Dugaan Korupsi Rp 2,9 M, Mantan Bupati Bojonegoro segera Disidang

Abdul Hady JM
Ilustrasi
Ilustrasi

Sidang perkara Santoso akan digelar pekan depan.

SURABAYA, Jaringnews.com - Mantan Bupati Bojonegoro HM Santoso, yang terbelit kasus dugaan korupsi dana eksplorasi Migas Blok Cepu dari Mobile Cepu Limited, perusahaan pengelola Blok Cepu, dalam waktu dekat akan menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Panitera Muda Pidana Khusus Pengadilan Tipikor Surabaya Suhadak mengatakan, sidang perkara Santoso akan digelar pekan depan.

"Hari apa pastinya saya belum menerima ketetapan dari Ketua PN. Yang jelas sebelum tanggal merah (Kamis pekan depan, red)," ujar Suhadak, akhir minggu ini.

Sidang akan dipimpin oleh Wakil Ketua PN Suwidya. "Ada lima hakim yang akan menyidangkan Santoso,"tuturnya. Jaksa yang mengajukan perkara ini ke pengadilan adalah jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro.

Menurut dia, berkas perkara yang menjerat terpidana 5 tahun penjara dalam kasus korupsi APBD 2007 itu sudah dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya pekan lalu.

Selain Santoso, lanjut Suhadak, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bojonegoro, Bambang Santoso, juga akan disidang dalam perkara sama.

Duo Santoso ini didudukkan sebagai pesakitan karena diduga melakukan penyelewengan dana dari MCL ke Pemkab Bojonegoro sebesar Rp. 3.814.650.000 (Rp 3,8 M), untuk keperluan pembebasan lahan. Dana diberikan MCL Berdasarkan MoU antara Pemkab dengan MCL bernomor 188/04/412.12/2007 tanggal 16 Mei 2007, ditandatangani Bupati Bojonegoro, Santoso, dan Brian D. Boles, Presiden and General Manager MCL.

Sesuai UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13/2006 tentang Pedoaman Pengelolaan Keuangan Daerah, seharusnya uang dari MCL tersebut dimasukkan ke rekening kas daerah (Kasda).

Tapi, oleh Santoso dana dimasukkan ke rekening Tim Koordinasi dan Pengendali Pembebasan Tanah untuk keperluan MCL. Tim ini diketuai Wakil Bupati Bojonegoro Talhah. Adapun Santoso (terdakwa 1) bertindak selaku Pelindung, sementara mantan Sekda Edi Santoso (terdakwa 2) sebagai Ketua I.

Waktu itu, dana MCL itu rencana akan dibagi-bagikan sebagai honorarium Muspida koordinator kabupaten, kecamatan, hingga desa, dan untuk operasional rapat dan perjalanan dinas.

Berdasarkan nota dinas, Santoso selaku bupati memberikan disposisi kepada Sekretaris I tim, Kasmoeni, serta memerintahkan untuk mencairkan dana bantuan MCL sebesar Rp 3,8 miliar dari rekening giro Bank Jatim cabang setempat. Setelah cair dana kemudian dibagi-bagi ke sejumlah oknum.

Berdasarkan berkas perkara, Santoso diduga menikmati uang tersebut sebesar Rp 957 juta, Bambang Santoso kebagian Rp 85 juta, mantan Kepala Sat Pol PP Edi Santoso Rp 412 juta lebih,  mantan Kabag Perlengkapan Sekretaris Daerah Muftuchin  Rp 154 juta lebih, dan mantan Kabag Keuangan kecipratan Rp 300 juta. Sisanya, Rp 1.149.120.000  miliar diduga dibagi-bagi ke oknum  pejabat Pemkab Bojonegoro lainnya.

Suhadak menjelaskan, kedua terdakwa perkara ini dijerat dengan dakwaan pasal 2 jo pasal 18 UU Tindak pidan korupsi jo pasal 55 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP. Ancaman hukuman pasal ini maksimal 20 tahun penjara.

(Hdy / Ara)
Diurutkan berdasarkan:
Kamis, 24 Januari 2013 11:34 WIB
jaswadi

parahhhh...memalukan bojonegoro...

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini