03:01 WIB
Kamis, 24 April 2014
Kamis, 23 Agustus 2012 16:26 WIB

Turki dan Amerika Bahas Strategi Pelengseran Assad

Johannes Sutanto de Britto
Poster bergambar Presiden Suriah Bashar al-Assad terbakar saat terjadi bentrok antara pemberontak dan pasukan Suriah di pusat kota Selehattin, dekat Aleppo (AFP/Bulent Kilic).
Poster bergambar Presiden Suriah Bashar al-Assad terbakar saat terjadi bentrok antara pemberontak dan pasukan Suriah di pusat kota Selehattin, dekat Aleppo (AFP/Bulent Kilic).

Pertemuan juga membahas ancaman potensial serangan kimia oleh rezim di Damaskus.

ANKARA, Jaringnews.com - Turki dan pejabat AS memulai pertemua khusus dengan "perencanaan operasional" yang ditujukan untuk melengserkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, Kamis, 23/8. Pertemuan ini diharapkan bisa mengkoordinasikan tanggapan militer, intelijen dan politik terkait krisis di Suriah dimana kekerasan mematikan telah menewaskan lebih dari 23.000 jiwa.

Pada kesempatan istimewa ini, para pejabat juga akan membahas rencana kontingensi terkait kasus ancaman potensial serangan kimia oleh rezim di Damaskus.

Pada pertemuan ini perwakilan Turki dipimpin oleh Halit Cevik, sementara pihak AS dipimpin oleh Dubes AS Elisabeth Jones. Pertemuan ini dihadiri delegasi agen-agen intelijen, pejabat militer dan diplomat.

Pertemuan ini dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan seperti telah dikemukakan oleh Menlu AS Hillary Clinton dan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu pada 11 Agustus lalu.

Pertemuan pada Kamis ini digelar hanya beberapa hari setelah Presiden AS Barack Obama memperingatkan Suriah terkait senjata kimia.

Seperti telah diberitakan Jaringnews.com sebelumnya, Obama menegaskan bahwa setiap gerakan atau penggunaan senjata kimia akan menjadi akan mempercepat intervensi militer asing dari luar. Apalagi, ancaman serangan ini telah memaksa 70.000 pengungsi Suriah memasuki Turki. Ancaman senjata kimia juga telah menyatukan AS dan Inggris untuk pengerahan militernya ke Suriah.

Eksodus besar-besaran ini telah menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya Perang Teluk 1991 yaitu ketika setengah juta orang Kurdi Irak berkumpul di sepanjang perbatasan. Belum lagi, kini ada ancaman kelompok bersenjata termasuk Partai Pekerja Kurdistan  (PKK) dan Al-Qaeda yang bisa mengeksploitasi kekosongan kekuasaan di Suriah.

(Deb / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini