13:38 WIB
Kamis, 23 Oktober 2014
Jumat, 25 Mei 2012 10:41 WIB

Iran Merasa Dirugikan, Perundingan Nuklir Berlanjut di Moskow

Johannes Sutanto de Britto
Kepala perunding nuklir sekaligus Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Saeed Jalili berpose dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton di Baghdad(AFP/ Al Saadi).
Kepala perunding nuklir sekaligus Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Saeed Jalili berpose dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton di Baghdad(AFP/ Al Saadi).

Sayangnya, berbagai kalangan melihat paket tersebut 'tidak berimbang'.

BAGHDAD, Jaringnews.com - Iran dan enam kekuatan dunia hanya mencapai kesepakatan kecil dalam dua hari perundingan intensif tentang nuklir di Baghdad. Kesepakatan tersebut hanyalah berupa pertemuan lanjutan di Moskow bulan depan.

Dorongan diplomatik terbaru antara Iran dan P5 +1  (Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman) pada satu tahap perundingan belum menghasilkan kesepakatan yang signifikan. Meski demikian, mereka akan terus mengupayakannya.

"Kami tetap bertekad untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat melalui negosiasi. Kami akan terus melakukan segala upaya untuk itu," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton.

"Apa yang kita miliki sekarang adalah pertemuan di tempat dimana kita dapat mengambil keputusan yang jauh lebih baik," tegasnya sembari menyatakan bahwa pertemuan putaran berikutnya akan berlangsung di Moskow pada 18-19 Juni mendatang.

Dia menambahkan, bagaimanapun juga, kini masih ada "perbedaan yang signifikan" karena Iran harus mengambil "langkah-langkah konkret dan praktis" untuk segera memenuhi keprihatinan masyarakat internasional".

P5 +1 menginginkan Iran membatasi pengayaan uraniumnya hingga 20 persen. Enam negara besar itu siap memberikan penawaran terhadap Iran, jika Iran menghentikan pengayaan uranium yang dapat digunakan untuk senjata nuklir itu. Tetapi Iran dengan tegas menyatakan bahwa pengayaan uraniumnya selama ini bukan untuk dirundingkan.

Juru runding dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman mengajukan sebuah paket yang berisi perpaduan proposal baru dan lama kepada Iran. Dalam proposal itu disinggung masalah isotop medis dan kerjasama keamanan nuklir. Dalam proposal itu Teheran harus menghentikan program pengayaan uranium sebesar 20% sebagai langkah awal. Sayangnya, berbagai kalangan melihat paket tersebut 'tidak berimbang'.

Media Iran mengatakan ketua juru runding, Saeed Jalili, menyampaikan lima poin dalam paket proposal mengenai "nuklir dan masalah non Nuklir". Tetapi rinciannya tidak disampaikan pada publik. Meski demikian dapat diketahui bahwa prioritas Iran adalah untuk mengakhiri sanksi internasional yang mengisolasi negara itu dan mengancam perekonomiannya.

(Deb / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini