09:12 WIB
Sabtu, 30 Agustus 2014
Jumat, 9 Maret 2012 11:55 WIB

Perempuan di Arab Spring - Bagian Satu

Kehidupan Muslim Otoriter Arab Saudi Penuh Kemunafikan

Silvia Werner

Hampir tidak ada negara di dunia dimana kaum perempuan diatur seperti di Arab Saudi. Tetapi sejak gejolak Arab Spring meletus, ada banyak perubahan.

RIYADH, Jaringnews.com - Sementara perempuan Arab Saudi masih diatur ketat di ranah publik, masa depan mereka ternyata sudah dimulai di ruang virtual. Perempuan muda dari semua lapisan sosial membangun jaringan di Twitter dan Facebook. Mereka menemukan kekuatan media sosial.

Orang Islam yang sangat taat pun makin harus membela pendapatnya di cyberspace. Baik dogma maupun ajaran alim mereka diacak-acak oleh perempuan yang mengenali Al Qur’an dengan baik. Di Twitter, mereka yang alim-alim itu disebut-sebut sebagai “sheik menstrusi“ atau “sheikh placenta“, karena aturan-aturan salehnya hampir di sekitar topik mens dan kelahiran saja.

"70% topik fatwa mereka mengenai perempuan, entah mengenai rambutnya, jilbabnya, salaman tangan dan menstruasi," tegas Kholoud al-Fahad dari kota minyak Dahran di bagian timur Arab Saudi. Kalau ada skandal, seperti banjir di Dschidda dua tahun yang lalu dengan seratus lebih korban jiwa,  imbuhnya, tidak ada imam yang bangkit dan mengkritik para politisi yang korup.

Seorang ahli ilmu pengetahuan seni yang berumur 32 tahun dengan sengaja tidak pakai jilbab dan menulis blognya khusus untuk perempuan."

“Saya sangat saleh waktu masih muda, sekarang saya sebaliknya,“ tuturnya. Indoktrinasi Islam otoriter yang dilepaskannya disebut sebagai semacam peracunan Tuhan. "Saya merasa ditipu, karena orang Islam otoriter itu pembohong dan tidak kompeten. Kehidupan mereka penuh kemunafikan."
 

(Sil / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini