17:10 WIB
Sabtu, 19 Mei 2012
Rabu, 1 Februari 2012 15:06 WIB

Kaum Muda Muslim Amerika Vokal Demi Eksistensi

Johannes Sutanto de Britto
Shohib dari PMII sedang berinteraksi dengan peserta dari AS menggunakan video komunikasi jarak jauh di pusat kebudayaan berteknologi tinggi @america (Jaringnews/Johanes Sutanto))
Shohib dari PMII sedang berinteraksi dengan peserta dari AS menggunakan video komunikasi jarak jauh di pusat kebudayaan berteknologi tinggi @america (Jaringnews/Johanes Sutanto))

Jumlah umat Muslim meningkat paska Tragedi  WTC 11/9 itu karena rasa penasaran dari orang Amerika.

JAKARTA, Jaringnews.com  - Dalam dialog interaktif menggunakan video komunikasi jarak jauh di pusat kebudayaan berteknologi tinggi @america Jakarta, Selasa malam, 31/1, peserta dialog dari Indonesia dan Amerika saling bertukar pikiran, pengalaman dan pendapat tentang perkembangan Muslim di masing-masing negara.

Ketika peserta dari Indonesia menanyakan soal isu gender dalam sistem pendidikan di Amerika, para mahasiswa yang berada di AS menegaskan bahwa sistem pendidakan di AS memberi peluang yang sama pada semua mahasiswa tanpa memandang latar belakang jenis kelamin.

“Amerika mengedepankan kualitas sehingga tidak ada isu gender yang mengakibatkan terjadinya diskriminasi,” tegas Ahson Rehman asal Baltimore yang tergabung dalam Asosiasi Pelajar Muslim di Universitas Towson.

Ia menambahkan, diskriminasi justru terjadi paska Tragedi WTC 11 September 2001 yang mendeskreditkan dan memojokkan Islam secara umum. Meski demikian, lambat laun orang Amerika justru makin tertarik pada Islam.

“Perlu diketahui bahwa jumlah umat Muslim meningkat paska tragedi itu karena rasa penasaran dari orang Amerika,” terang Muhammad Pradana Indraputra dari RICMA usai acara dialog interaktif.

Ia menambahkan, paska tragedi tersebut kaum muda Muslim di Amerika menjadi vokal untuk menunjukkan kebenaran Islam.

“Kalau tidak vokal, kita tidak akan dapat tempat peribadatan sendiri dan perlakuan yang sama,” imbuh Pradana.

Sementara itu perkembangan Islam di Amerika bisa terwujud juga berkat pemerintah sekarang yang menghargai pluralisme.

“Kita harus membedakan pemerintah AS yang dulu dan Sekarang. Pemerintah saat ini tidak diskriminatif. Pemerintah saat ini menggunakan pendekatan yang mengena pada masyarakat muslim sehingga sikap konfrontatif Muslim sudah tidak lagi sering terlihat,” dalih Gugus Aryo Swandito dari RISKA.

Sementara Shohib dari PMII Jakarta mengingatkan bahwa sikap diskriminatif justru berpotensi dilakukan oleh masyarakat Muslim di Indonesia sebagai kelompok mayoritas. Ia lantas berharap agar kaum muda Muslim Indonesia semakin tertantang untuk menjadi muslim yang moderat.

(Deb / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini