21:02 WIB
Selasa, 2 September 2014
Jumat, 3 Mei 2013 07:09 WIB

Usus Buntu dan Faktanya

JaringNews
Usus buntu dapat dirasa pada perut sebelah kanan (Foto - healthtap.com)
Usus buntu dapat dirasa pada perut sebelah kanan (Foto - healthtap.com)

Kurangnya konsumsi serat dan air putih akibatkan tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan

JAKARTA, Jaringnews.com - Kita sering mendengar sakit usus buntu yang dalam dunia medis disebut appendicitis. Banyak yang berangapan bahwa penyakit usus buntu karena biji jambu. Sebetulnya ini merupakan peradangan yang terjadi di umbai cacing atau usus buntu (apendiks vermiformis). Usus buntu terletak di perut bagian kanan bawah, mempunyai ujung yang buntu, dan berhubungan langsung dengan usus besar. Usus buntu berfungsi memproduksi IgA (immunoglobulinA) yang sangat efektif untuk perlindungan terhadap infeksi.

Peradangan pada usus buntu ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat juga karena adanya penumpukan tinja sehingga terjadi penyumbatan. Penumpukan tinja terjadi karena kurangnya konsumsi serat dan air putih sehingga tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan.

Terdapat 2 macam usus buntu, yaitu usus buntu akut dan kronik. Usus buntu akut disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran usus buntu yang berakibat terjadinya pembengkakan. Pembengkakan ini dapat mengiritasi mukosa dan menyisakan jaringan parut yang ditandai dengan munculnya rasa sakit di sekitar perut. Pembengkakan yang disertai dengan rasa sakit di perut inilah yang disebut usus buntu kronik. Timbulnya usus buntu dapat dideteksi dengan gejala seperti demam, mual, muntah, menurunnya nafsu makan, dan nyeri di sekitar pusar.

Beberapa cara, diantaranya melalui pemeriksaan fisik, laboratorium, dan radiologi Untuk mendeteksi terjadinya usus buntu dapat dilakukan dengan. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan menekan perut bagian kanan bawah. Jika terasa sakit saat ditekan dan dilepaskan, maka harus diwaspadai munculnya usus buntu.

Cara yang lebih akurat adalah dengan mengukur suhu dubur. Usus buntu terjadi jika suhu dubur lebih tinggi daripada suhu ketiak. Selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui jumlah sel darah putih. Usus buntu ditandai dengan adanya kenaikan jumlah sel darah putih secara signifikan. Sedangkan pada pemeriksaan radiologi digunakan USG (ultrasonografi) untuk mengetahui adanya penumpukan tinja di usus buntu. Dapat juga menggunakan CT-scan untuk melihat usus buntu secara lebih jelas.

Dengan dilakukannya pemeriksaan awal, diharapkan penderita usus buntu dapat segera mendapat penanganan. Penanganan penyakit ini berupa pemberian antibiotik tetapi tingkat kekambuhannya tinggi. Penanganan yang lebih efektif adalah dengan jalan pengangkatan usus buntu. Pengangkatan ini akan sedikit berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh karena produksi IgA terganggu. Namun, hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena produksi IgA di usus buntu jumlahnya sangat sedikit.

Jadi dari penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kisah tentang biji jambu yang dapat menyebabkan usus buntu ternyata hanya mitos belaka karena sesungguhnya penyebab utama usus buntu adalah kurangnya konsumsi serat.
 

(Mys / Mys)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini