06:17 WIB
Kamis, 31 Juli 2014
Selasa, 7 Februari 2012 18:02 WIB

Mendag Tekankan Ubah Pola Konsumsi untuk Capai Ketahanan Pangan

Nikky Sirait
Seorang pekerja mencatat jumlah beras impor yang diturunkan dari kapal MV Vien Dong 3 dari Vietnam yang tiba di Pelabuhan Yos Sudarso-Ambon, Selasa (6/12). (Antara/Jaringnews)
Seorang pekerja mencatat jumlah beras impor yang diturunkan dari kapal MV Vien Dong 3 dari Vietnam yang tiba di Pelabuhan Yos Sudarso-Ambon, Selasa (6/12). (Antara/Jaringnews)

Ketergantungan Indonesia terhadap beberapa bahan pangan impor seperti beras dan gula masih sangat tinggi.

JAKARTA, Jaringnews.com - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menekankan perlunya melakukan diversifikasi pangan dalam merubah pola konsumsi masyarakat. Hal tersebut, lanjutnya, bisa dimulai dengan mensubstitusi beras dengan singkong, ubi dan bahan pangan lainnya. Menurut dia, substitusi yang lebih seimbang antara unsur-unsur pangan dalam profil konsumsi masyarakat akan berdampak sangat positif.

Meski begitu, lanjut dia, sejauh ini pemerintah selalu berusaha menjaga ketahanan pangan nasional dengan menjamin ketersediaan pasokan dan aksesibilitas pangan, serta stabilisasi harga dalam negeri.

"Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dan pola konsumsi yang berlebihan, tanpa diiringi peningkatan produksi pangan, maka ketahanan pangan nasional akan semakin sulit dicapai," ujarnya ketika menjadi salah satu pembicara dalam Jakarta Food Security Summit: Feed Indonesia Fee The World di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/2).

Dia menjelaskan, akibat pola konsumsi yang meningkat dan sulitnya menambah produksi pangan, pemerintah masih harus mengambil kebijakan impor kebutuhan dasar demi menjaga ketercukupan pasokan pangan.

Menurut dia, ketergantungan Indonesia terhadap beberapa bahan pangan impor seperti beras dan gula masih sangat tinggi dan terus mewarnai kebijakan pemerintah, meski beberapa strategi upaya pengendalian pangan sudah banyak dilakukan.

"Tiga bulan ini saya selalu sarapan dengan singkong, berat saya turun 8 kilo. Dengan mengubah pola konsumsi, kesehatan masyarakat juga dapat lebih meningkat. Saat ini, Indonesia merupakan negara dengan penderita diabetes terbesar keempat menurut data WHO (World Health Organization)," pungkas Gita.

Pola konsumsi yang berlebihan dapat dilihat dari jumlah konsumsi beras Indonesia yang dua kali lebih besar dari negara tetangga. Pada 2011, produk beras lokal Indonesia sebesar 65,4 juta ton, dan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, pemerintah harus melakukan impor beras sebanyak 2,75 juta ton.

Selain beras, Indonesia juga merupakan salah satu konsumen gula terbesar sesudah negara Amerika Latin. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia memproduksi gula sebesar 2,31 juta ton pada 2011, namun masih banyak harus melakukan impor raw sugar sebanyak 108.889 ton dan gula kristal putih sebanyak 143.479 ton.

(Nky / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari