08:50 WIB
Minggu, 26 Oktober 2014
Kamis, 15 Desember 2011 12:16 WIB

Perkebunan Tebu Di Jawa Tak Lagi Menguntungkan

JaringNews
Seorang buruh tebang mengangkut tebu jenis BR menggunakan lori untuk disetorkan ke pabrik gula di Desa Putatlor, Malang, Jawa Timur (Antara/Jaringnews)
Seorang buruh tebang mengangkut tebu jenis BR menggunakan lori untuk disetorkan ke pabrik gula di Desa Putatlor, Malang, Jawa Timur (Antara/Jaringnews)

BUMN belum bisa diharapkan dan justru swasta yang giat membuka lahan perkebunan di luar Jawa.

JAKARTA, Jaringnews.com - Pulau Jawa bukan lagi tempat yang menguntungkan bagi aktivitas pertanian bernilai tambah rendah.  Usaha tani padi, jagung dan tebu termasuk yang memberikan nilai tambah rendah yang harus berpindah ke luar Jawa, seperti Sumatera dan kawasan Timur Indonesia.

Pendapat ini disampaikan oleh pengamat ekonomi Harbrinderjit Singh Dillon hari ini (15/12) di Jakarta, ketika dimintai pendapatnya tentang unjuk rasa yang dilakukan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) kemarin.

Menurut HS Dillon yang meraih gelar doktor ekonomi pertanian dari Cornell University itu, prinsip yang harus dipegang dalam membangun adalah negara ini tidak akan maju jika petaninya tidak maju. Dan kemajuan petani harus diukur berdasarkan produktivitas orangnya, bukan produktivitas lahan.

Itulah alasan dia mengatakan bahwa aktivitas pertanian bernilai tambah rendah tidak cocok lagi di Indonesia. “Yang bisa berjalan dengan baik di Jawa adalah aktivitas ekonomi padat modal dan padat pengetahuan,” tutur dia.

Lantas, bagaimana cara memindahkan perkebunan tebu ke luar Jawa?

Ia mengatakan dulu ketika ia menjadi ketua tim restrukturisasi BUMN Pertanian, ia melebur BUMN di bidang pertanian menjadi hanya sembilan BUMN. Itu dengan harapan BUMN tersebut menjadi lokomotif memajukan perkebunan ke luar pulau Jawa. Sementara lahan perkebunan yang ada di pulau Jawa, menurut dia, akan lebih efisien bila diserahkan kepada masyarakat.

Sayangnya, menurut dia, BUMN belum bisa diharapkan. Justru swasta yang giat membuka lahan perkebunan di luar Jawa.
 
Dillon menambahkan kebijakan pengembangan industri gula di Tanah Air masih meneruskan peninggalan Belanda, termasuk pabrik-pabriknya. Padahal, sambil mengutip pernyataan Bung Karno, kegiatan mengisi kemerdekaan itu adalah menjebol, membangun dan menjebol lagi. “Artinya jangan takut mengubah sesuatu yang tidak relevan lagi,” tutur Dillon, yang kini menjadi utusan khusus Presiden untuk pengentasan kemiskinan.

(Ben / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari