18:17 WIB
Jumat, 25 Juli 2014
Jumat, 25 November 2011 09:41 WIB

Pemilik Alfamart Jadi Orang Terkaya Baru Indonesia

Eben Ezer Siadari
Djoko Susanto (Foto: Forbes.com)
Djoko Susanto (Foto: Forbes.com)

Awalnya saya berencana memberi nama Sampoerna Mart, tetapi kemudian saya menggunakan nama Alfa.

JAKARTA, Jaringnews.com - Djoko Susanto, pengusaha di belakang jaringan ritel Alfamart, mengukuhkan diri sebagai orang terkaya baru Indonesia dalam daftar orang terkaya Indonesia yang hari ini dilansir oleh Majalah Forbes. Ia ditaksir mempunyai kekayaan US$1 miliar, menyebabkan dirinya yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar, langsung melesat ke urutan 25 dari 40 orang terkaya Indonesia

Orang Terkaya Indonesia, menurut majalah itu adalah R. Budi dan Michael Hartono dengan kekayaan US$14 miliar. Keduanya adalah pemilik kelompok usaha Djarum, yang juga pemilik saham mayoritas Bank BCA.

Di urutan kedua adalah Susilo Wonowidjojo dengan kekayaan US$10 miliar, yang merupakan pemilik perusahaan rokok Gudang Garam. Taipan gaek Eka Tjipta Widjaja berada di urutan ketiga dengan kekayaan US$8 miliar. Sedangkan Low Tung Kwok di urutan keempat dengan kekayaan US$3,7 miliar, dan Anthoni Salim di urutan kelima dengan kekayaan US$3,6 miliar.

Sebagai orang terkaya baru, riwayat kewirausahaan Djoko Susanto cukup klasik, menggambarkan perjuangan from zero to hero. Ia memulai usaha di usia 17, dengan membuka kios di Pasar Arjuna, Jakarta. Tokonya diberi nama Sumber Bahagia, menjual macam-macam barang tetapi kemudian memusatkan diri pada rokok.

Sebagaimana diceritakan majalah Forbes, ketekunannya menekuni bisnis rokok menarik perhatian Putera Sampoerna, dulu dikenal sebagai pemilik perusahaan rokok Sampoerna (dalam daftar, dia orang terkaya kesembilan).

Mereka kemudian bertemu pada awal 1980. Lima tahun kemudian mereka sepakat membangun 15 toko rokok seperti milik Djoko di seantero Jakarta. Kongsi itu sukses dan menginspirasi keduanya membuka supermarket diskon diberi nama Alfa Toko Gudang Rabat. Pada tahun yang sama, Djoko diangkat menjadi direktur penjualan dan distribusi pada perusahaan Sampoerna yang lebih besar.

Pada tahun 1994 keduanya  membuka untuk pertama kalinya Alfa Minimart (yang kemudian lebih dikenal sebagai Alfamart) , ditujukan kepada kelas menengah yang menginginkan toko nyaman tapi murah.

“Awalnya saya berencana memberi nama Sampoerna Mart, tetapi kemudian saya menggunakan nama Alfa, nama dan merek yang sudah teruji,” kata Djoko kepada Forbes.

Kongsi mereka langgeng sampai tahun 2005, ketika Sampoerna menjual saham-sahamnya di perusahaan rokok dan anak usaha lainnya, termasuk Alfamart. Pembelinya waktu itu adalah Philip Morris International, dengan nilai lebih dari US$5 miliar.

Philip Morris tak berniat di bisnis ritel sehingga mereka menjual Alfamart kepada Djoko dan sebuah perusahaan ekuiti, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar, sehingga ia menjadi pemegang saham mayoritas dengan jumlah saham 65%.

Ini langkah cerdas. Saham perusahaan ritel terbesar ketiga di Indonesia ini, telah berganda nilainya dalam 12 bulan terakhir dan berlipat empat kali dalam dua tahun terakhir. Inilah yang menyebabkan dirinya menjadi orang terkaya baru di daftar Forbes, dengan perkiraan kekayaan bersih US$1,04 miliar.

Djoko yang beberapa tahun lalu telah menjual supermarketnya, kini fokus pada minimarket. Sektor ini penjualannya tumbuh  rata-rata 15%-20% per tahun. Alfamart kini memiliki 5.500 toko, mempekerjakan 57 ribu karyawan dan melayani sekitar dua juta pelanggan setiap hari. Tahun depan, mereka akan menambah 800 toko lagi.

(Ben / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini