16:14 WIB
Rabu, 23 April 2014
Sabtu, 2 November 2013 11:38 WIB

Mayoritas Mainan Anak Bikinan China Tidak Sesuai SNI

Eben Ezer Siadari
Ilustrasi, Mainan anak-anak pruduk China (ist.)
Ilustrasi, Mainan anak-anak pruduk China (ist.)

Mainan anak tidak boleh memiliki tepi yang tajam. Bahan-bahannya juga  tidak boleh mengandung formalin.

 
 

JAKARTA, Jaringnews.com - Setiap tahun Indonesia mengimpor sekitar US$75 miliar mainan anak. Sebanyak 95 persen diimpor dari China dan sebagian besar ditengarai tidak memenuhi ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Kita menengarai kualitas mainan yang kita impor tidak seluruhnya terjamin. Dan kalau dilihat dari bahan, 90 persen berbahan plastik. Ini harus dicermati,” kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi dalam diskusi dengan wartawan di press room Kemendag, Jakarta (1/11).

Bayu menambahkan, hal ini semakin perlu diwaspadai karena mainan-mainan tersebut menjangkau rentang usia anak yang sangat luas. Anak berusia dibawah tiga tahun hingga berusia 15 tahun merupakan konsumen mainan anak-anak tersebut, yang rawan tidak terlindungi apabila tidak ada pengawasan yang ketat.

“Mainan anak kan luas, mulai dari baby walker, sepeda roda tiga, puzzle berbagai bentuk, kelereng dan berbagai jenis lainnya,” kata Bayu.

Itu sebabnya, Kemendag mendukung penerapan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 24/M-IND/PER/4/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan Anak. Peraturan ini sudah dinotifikasi ke WTO pada April lalu dan akan diberlakukan mulai Oktober ini.

“Ketentuan SNI ini bersifat wajib. Semua produk mainan di Indonesia harus mengikuti ketentuan ini,” kata Bayu.

Beberapa ketentuan dalam Permenperin itu yang terkait dengan perlindungan konsumen antara lain,  mainan anak tidak boleh memiliki tepi yang tajam. Bahan-bahannya juga  tidak boleh mengandung material yang bisa dikategorikan sebagai formalin atau setara dengan itu. Seandainya mainan itu terpisah-pisah, harus dengan petunjuk yangn jelas. Sedangkan mainan yang terpecah-pecah dalam ukuran yang sangat kecil, tidak boleh ditujukan kepada anak-anak.

“Jadi SNI betul-betul kita arahkan untuk perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak sehingga tidak berbahaya,” tutur Bayu.

Pasar mainan anak di Indonesia, menurut Bayu, sangat besar. Selain mengimpor mainan anak, Indonesia juga mengekspor mainan anak sekitar US$90 juta setiap tahun. Sedangkan produksi mainan anak dalam negeri yang beredar di pasar domestik, diperkirakan jauh lebih besar dari nilai itu.

Itu sebabnya, Kemendag memutuskan untuk memberikan tenggang waktu sampai Mei tahun depan kepada produsen dan distributor mainan anak untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan ini.

“Sementara ini kami melakukan edukasi dan sosialisasi sampai Mei tahun depan. Ketentuannya tetap berlaku, tetapi pengawasan beredar yang berarti mainan anak itu harus menurut ketentuan berlaku, baru akan dilakukan per Mei 2014." tutur Bayu.
 

 
(Ben / Nvl)
Diurutkan berdasarkan:
Jumat, 28 Februari 2014 11:40 WIB
Iqbal

Sebetulnya berapa banyak kah kasus keracunan atau kematian akibat menggunakan mainan ta ber sni dibandingkan dengan kemiskinan dan kelaparsn? Coba ke daerah bekasi atau daerah pinggiran lainnya dimana banyak pabrik kecil dan bahkan ibu rumah tangga yg menjahit mainan yang tidak mungkin ber sni, kalau peraturan ini dipaksakan, maka berapa banyak pengrajin kecil yang kehilangan pekerjaan. Kembali lagi ke pertanyaan awal, berapa banyak kasus mainan tak ber sni yang menyebabkan kematian

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini