19:10 WIB
Senin, 22 September 2014
Rabu, 9 Oktober 2013 11:11 WIB

Liputan Langsung APEC 2013 (37)

Ini Hasil yang Dipanen RI dari APEC di Bali

JaringNews
Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan dan Dirjen WTO, Roberto Azevedo, berjalan meninggalkan ruangan seusai melakukan pembicaraan di Hotel Laguna Resort & Spa, di Nusa Dua, Bali (Foto - Eben Ezer Siadari)
Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan dan Dirjen WTO, Roberto Azevedo, berjalan meninggalkan ruangan seusai melakukan pembicaraan di Hotel Laguna Resort & Spa, di Nusa Dua, Bali (Foto - Eben Ezer Siadari)

Indonesia memanen hasil selain menghasilkan tujuh kesepakatan pemimpin APEC, 26 butir deklarasi dan satu pernyataan khusus mendukung KTM WTO di Bali nanti.

 
 

NUSA DUA, Jaringnews.com - Pertemuan para pemimpin APEC ke 21 di Nusa Dua Bali, kemarin resmi berakhir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan konferensi tingkat tinggi (KTT) itu berlangsung sukses dan produktif.
 
Pertemuan ini secara resmi menghasilkan tujuh kesepakatan dan 26 butir deklarasi. Selain itu ada sebua deklarasi terpisah berisi 10 poin tentang dukungan pada sistem perdagangan multilateral, khususnya kepada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-9 di Bali pada Desember nanti.
 
Namun, di luar itu sejumlah hasil dipanen pula oleh Indonesia dari berbagai pertemuan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara APEC.

Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Presiden antara lain melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Shinzo Abe.

“Pertemuan itu berlangsung secara positif. Sebelumnya dalam Japan Indonesia Economic Forum (JIEC) telah menghasilkan berbagai kesepakatan. Salah satunya negosiasi ulang tentang Japan-Indonesia Partnership Agreement. Kita melakukan evaluasi ulang. Kita mengusulkan ada parameter agar UKM kita bisa masuk,” kata Hatta Rajasa dalam jumpa pers di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) II, Bali, (8/10).

Selanjutnya, Hatta menambahkan, Jepang juga menyinggung soal pelaksanaan UU Minerba, yang menekankan hilirisasi. “Ada industri  Jepang komit ikut mengembangkan industri, termasuk industri baja,” tutur dia.
 
Sementara dengan Rusia, lanjut Hatta, didapatkan keinginan negara itu berinvestasi di bidang perkereta-apian dan pertambangan. “Presiden Putin menyampaikan langsung bahwa Rusia akan ikut mengembangkan hilirisasi mineral,” kata Hatta.
 
Dalam jumpa pers yang sama, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan menambahkan dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dengan Meksiko  disepakati upaya membangun kerjasama komprehensif yang mencakup politik, perdagangan, investasi, turisme dan pertukaran sosial budaya. Juga kerjasama teknis dalam bidang kesehatan, olah raga, pendidikan dan hubungan orang ke orang.  Sejumlah menteri kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman dalam bidang pajak, turisme, transportasi udara dan kesehatan.

Menurut Gita, Presiden juga melakukan pembicaraan dengan CEO Hong Kong, C.Y. Leung, terkait dengan kawasan perdagangan bebas Indonesia-Hong Kong. Sedangkan dengan Vietnam, ditandatangani nota kesepahaman mengenai Rancangan Aksi untuk Implementasi Kerjasama Komprehensif.
 
Dengan Peru, lanjut Gita, ditandatangani nota kesepahaman mengenai Kerjasama Pertanian. Pada hari terakhir KTT, Presiden juga melakukan pembicaraan bilateral dengan Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak dan Menlu AS, John Kerry.
 
Selaku menteri perdagangan, Gita Wirjawan menyatakan dirinya  melakukan pertemuan bilateral dengan Kepala United States Trade Representative (USTR), Michael Froman. Keduanya membicarakan sejumlah isu menyangkut perdagangan kedua negara, diantaranya tentang belum dipatuhinya oleh AS keputusan WTO yang memenangkan Indonesia perihal rokok.
 
Dengan Menteri Perdagangan Australia, Andrew Robb, Gita Wirjawan membicarakan perkembangan perundingan Indonesia-Australia CEPA. Selain itu juga mengenai hubungan dagang dan investasi kedua negara di bidang produk hortikultura dan daging.
 
Sementara itu, dengan Dirjen WTO, Roberto Azevedo, Gita Wirjawan bertemu untuk membicarakan posisi terakhir perundingan di Jenewa. Ia juga memberikan sejumlah saran kepada Dirjen itu terkait dengan langkah menembus kebuntuan dalam perundingan Putaran Doha.
 
Secara khusus, dalam pertemuan bilateral dengan delegasi Hong Kong dan Peru, Gita Wirjawan  meminta dukungan terhadap pelaksanaan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO di Bali Desember nanti. Sedangkan dalam pembicaraan bilateral dengan Thailand, Gita Wirjawan menyinggung soal isu-isu yang terkait dengan perdagangan hortikultura, khususnya beras.
 
Dengan Korea Selatan, Gita Wirjawan merundingkan langkah-langkah untuk mempercepat Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Sedangkan dengan Chile, dibicarakan tentang peluncuran perundingan bilateral CEPA mengenai barang pada awal tahun depan.
 
Selain itu, lanjut Gita, kehadiran lebih dari 1.200 pemimpin bisnis dalam APEC CEO Summit, pada ujungnya menghasilkan kesepakatan diantara mereka yang diharapkan berujung pada investasi di negara-negara APEC, termasuk Indonesia.
 
“Pertemuan ini sangat dinamis, didukung oleh kehadiran 12 kepala negara yang bicara, dan satu yang mewakili  Presiden Obama. Banyak yang mempertanyakan bahwa ketidakhadiran Obama akan mengagalkan APEC, tetapi samasekali tidak. Dengan kehadiran 20 kepala negara dan yang mewakilinya lainnya, serta adanya pendelegasian yang signifikan, sangat bisa mengedepankan substansi yang sangat besar di level CEO, Menteri dan Pemimpin,” tutur Gita.
 


 

 
(Ben / Mys)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari