04:54 WIB
Kamis, 17 April 2014
Minggu, 10 Juni 2012 21:44 WIB

Seputar Persahabatan Om Liem dan Soeharto yang Kontroversial

Eben Ezer Siadari
Liem Sioe Liong berjabat tangan dengan Presiden Soeharto
Liem Sioe Liong berjabat tangan dengan Presiden Soeharto

Di satu pihak (Liem Sioe Liong) orang Indonesia keturunan Tionghoa yang terkaya pada 1990-an ini sempat menikmati faedah ekonomis dari patronase politik Soeharto

JAKARTA, Jaringnews.com - Berita tentang meninggalnya Liem Sioe Liong yang akrab disapa Om Liem mendadak jadi pembicaraan yang ramai di Tanah Air. Walau nama taipan gaek itu sudah mulai redup dari berita utama media, bayang-bayang kiprahnya di Indonesia tak sepenuhnya hilang.

Salah satu yang selalu menarik tetapi sekaligus kontroversial adalah pertalian persahabatannya dengan Soeharto, presiden di era Orde Baru.

Om Liem sudah dekat dengan Pak Harto sejak yang disebut terakhir ini masih menjadi seorang perwira menengah.

'Kemitraan' keduanya terus langgeng, walaupun di kemudian hari para analis menyodorkan pertanyaan konyol: siapa sebetulnya yang mengendalikan siapa? Dan apakah persahabatan keduanya ada gunanya bagi negara?

"Di satu pihak (Liem Sioe Liong) orang Indonesia keturunan Tionghoa yang terkaya pada 1990-an ini sempat menikmati faedah ekonomis dari patronase politik Soeharto. Di lain pihak, presiden dapat mengerahkan pengaksesan sumber-sumber ekonomi yang dikuasai sahabat non-pribuminya itu demi tujuan politik", tulis Ahmad D. Habir dalam sebuah analisisnya pada buku Indonesia Beyond Soeharto yang disunting oleh Donald K. Emmerson.

Menurut Habir, walau keduanya sohib, hubungan Om Liem dan Soeharto sebetulnya diliputi ketegangan yang dilatarbelakangi faktor ras, antara nasionalisme dan patronase di Indonesia.

"Tujuan Soeharto tidak pernah untuk menasionalisasi harta Salim Group ataupun mengalihkan sebagian besar saja harta itu ke tangan pribumi. Lebih mudah dan secara politik lebih produktif bagi presiden (Soeharto) untuk menggunakan sumber-sumber Liem tanpa membatasi kegiatan pengusaha itu", imbuh Habir.

Sampai di sini, orang sering melihat itu merupakan taktik yang cerdik dari Pak Harto, sebagai cara untuk melayani kepentingan nasional, mengingat dana pemerintah yang cekak kala itu.

Namun di kemudian hari tidak transparannya hubungan keduanya dan kesan tentang korupsi tingkat elit yang ditimbulkannya, membuat kecaman akan adanya kolusi diantara keduanya makin kencang.

Salim Group, pada gilirannya mendapat sorotan sebagai sebuah kelompok usaha yang sarat inefisiensi dan hanya tumbuh karena perlindungan pemerintah.

"Selama Orde Baru berjalan, opini publik rasanya semakin menentang favoritisme yang ditunjukkan presiden (Soeharto) terhadap perusahaan tertentu terutama Salim Group serta imperium yang kesohor dan terus berkembang dipegang anak-anak presiden (Soeharto)", tulis Habir.

Di era reformasi, Om Liem kemudian lebih banyak surut ke belakang, berada di balik layar. Apalagi ketika puncak kerusuhan 1998 berlangsung, rumahnya di Indonesia turut dirusak oleh pengunjuk rasa. Ia kemudian lebih banyak tinggal di Singapura.

Salim Group pun, menjalankan irama yang serupa. Lebih banyak low profile dibawah kendali sang putra, Anthony Salim.

Dan kini ketika Om Liem telah tiada, sama seperti Soeharto yang sudah lebih dulu pergi, saatnya lebih leluasa menelisik lagi hubungan keduanya dan apa untung-ruginya bagi Indonesia.
 

(Ben / Mys)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini