23:28 WIB
Kamis, 23 Oktober 2014
Rabu, 11 Januari 2012 18:54 WIB

Paceklik Tiba, Bulog Akui Ada Kenaikan Harga Beras

JaringNews
Penjual beras di pasar tradisional (Antara/Jaringnews)
Penjual beras di pasar tradisional (Antara/Jaringnews)

Bulan Desember, Januari dan Maret adalah masa paceklik beras.

JAKARTA, Jaringnews.com - Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoesa mengakui saat ini terjadi kenaikan harga beras sekitar 2,5  persen sehubungan telah tibanya masa paceklik. Itu sebabnya Pemerintah akan melakukan penyaluran raskin dua kali dalam Januari ini disamping melakukan operasi pasar di berbagai wilayah yang menunjukkan tendensi kenaikan harga.

"Kenaikan harga beras pasti memberatkan masyarakat yang berpendapatan rendah. Untuk itu akan ada penyaluran beras raskin dua kali di Januari," kata dia kepada Jaringnews dan sejumlah wartawan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian seusai rapat koordinasi pangan, sore ini (11/1).

Pemerintah menurut dia menyiapkan 524.000 ton raskin. Sebelum ini raskin diberikan sebulan sekali kepada keluarga miskin. Setiap keluarga berhak membeli beras 15 Kg dengan harga Rp 1600 per kg.

Meskipun masa paceklik tiba, tak berarti Bulog serta-merta melakukan impor.

Menurut Sutarto, saat ini stok beras Bulog ada 1,8 juta ton. "Dalam kondisi normal stok ini cukup untuk enam bulan. Tetapi kalau dikurangi dengan penyaluran raskin dan dikurangi lagi untuk operasi pasar, tentu sangat mungkin hanya cukup lima bulan, " kata Sutarto.

Namun ia tidak terlalu mengkhawatirkan hal ini, sebab nanti pada bulan Maret akan tiba waktunya panen raya. "Kita akan tambah stok dari beras dalam negeri. Kita lihat saja berapa besar produksinya," tutur dia lagi.

Ia mengakui bulan Desember, Januari dan Maret adalah masa paceklik beras. "Paceklik artinya produksi kita lebih rendah dari kebutuhan, " jelas Sutarto. Itu sebabnya terjadi kenaikan harga beras sekitar 2,5 persen.

Bulog  belum dapat memastikan apakah akan melakukan impor beras tahun ini. Jika hasil produksi beras dalam negeri bisa naik jadi 70 juta ton seperti yang ditargetkan pemerintah, itu berarti ada kenaikan produksi 7 juta ton. Bulog tak perlu impor  tinggal menyerap kenaikan produksi itu saja.

Keputusan melakukan impor atau tidak akan diambil pada bulan Juni atau Juli, setelah memperhitungkan hasil panen dalam negeri dan kekurangan kebutuhan.

(Ben / Deb)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini