14:47 WIB
Jumat, 19 September 2014
Senin, 26 November 2012 13:18 WIB

Berisiko Tinggi, Pembudidaya Laut Butuh Pendampingan dari Pemerintah

Ainur Rahman
Petani rumput laut merugi karena kemarau
Petani rumput laut merugi karena kemarau

Masalah lain yang dihadapi pembudidaya adalah strategi pemasaran.

JAKARTA, Jaringnews.com - Budidaya komoditas kelautan dinilai lebih berisiko dibandingkan air tawar. Itulah yang menjadi alasan, para penambang illegal logam emas di Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah belum banyak beralih pada pekerjaan budidaya laut seperti ikan krapu, bawal, kerang abalone, lobster, dan tiram mutiara. Sehingga beberapa pembudidaya untuk tahap awal masih sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah, termasuk pendampingan teknis.

“Resiko besar. Komoditasnya seperti kerang abalone memang dijual dengan harga mahal. Tapi hanya segelintir pembudidaya yang mengerti teknik pemasaran komoditas. Pemerintah, termasuk kami masih harus mendampingi, memberikan sarana seperti keramba, bibit dan lain sebagainya,” kata Kepala Balai Budidaya Laut Lombok Ujang Komarudin kepada wartawan di Jakarta.
 
Selain itu, masalah lain yang dihadapi pembudidaya adalah strategi pemasaran. Sebab memasarkan produk perikanan laut tidak sesederhana produk air tawar. Beberapa jenis ikan air tawar bisa langsung dijual ke pasar.Tapi komoditas perikanan laut perlu tata niaga tersendiri. Salah satunya tiram mutiara.

Karena beberapa masalah tersebut, ada perusahaan lokal yang akhirnya collapse, yaitu PT BCHM (Bumi Coral Hamparan Mutiara). Tetapi perusahaan asing asal Jepang, Kyoko dan dua perusahaan lainnya masih bertahan. Melihat permasalahan tersebut, jelas Ujang, Pemerintah berusaha membantu masyarakat untuk diversifikasi ke produk lain seperti rumput laut.

“Kami sedang mengembangkan bibit unggulan mulai dari Lombok Tengah, Sumbawa sampai NTT (Nusa Tenggara Timur),” jelas Ujang.

(Ara / Ara)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini