13:31 WIB
Sabtu, 20 Desember 2014
Minggu, 2 Oktober 2011 08:24 WIB

Harga Tebu Naik, Nasib Petani Diharapkan Berubah

Jaring News
Seorang buruh tebang mengangkut tebu jenis BR menggunakan lori untuk disetorkan ke pabrik gula di Desa Putatlor, Malang, Jawa Timur (Antara/Jaringnews)
Seorang buruh tebang mengangkut tebu jenis BR menggunakan lori untuk disetorkan ke pabrik gula di Desa Putatlor, Malang, Jawa Timur (Antara/Jaringnews)

JAKARTA, Jaringnews.com  - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTRI, Soemitro Samadikun mengatakan bahwa saat ini terjadi kenaikkan harga tebu di tingkat petani. Harga tebu pada Mei yang lalu hanya Rp 35 ribu untuk setiap kuintalnya, namun kini harganya sudah bertengger di Rp 48 ribu hingga Rp 52 ribu per kuintal.

Kenaikkan ini diduga lantaran harga rendemen tebu mengalami kenaikan. Pada awal musim giling di bulan Mei lalu rata-rata rendemen dibeberapa pabrik penggilingan gula berada di kisaran 6%, namun kini sudah naik ke kisaran 8%.

Kenaikkan harga tebu ini memang menguntungkan petani tebu. Tetapi menurut Staf Ahli Asosiasi Gula Indonesia(AGI), Colosewoko, pemerintah di sisi lain perlu mengawasi pergerakan kenaikan harga ini untuk menjaga kelanjutan produksi pabrik-pabrik gula. “Apalagi dengan adanya wacana membeli putus, ini harus dijaga supaya pabrik-pabrik ini masih bisa mendapatkan bahan baku agar produksi tidak terganggu,”tutut Colosewoko.

Dengan kenaikkan harga tebu ditingkat petani saat ini terjadi penurunan produktivitas hingga 10% per ha pada awal tahun ini. Penurunan bobot ini membuat pabrik-pabrik gula bersaing dalam mendapatkan bahan baku untuk pabriknya dan menaikkan harga pembelian mereka. Namun di sisi lain karena jumlah gula yang dihasilkan relatif sama, maka penghasilan petani tak terasa naik. “Ada kenaikan rendemen karena musim keringnya bagus, tetapi di sisi penghasilan petani sebenarnya tidak naik signifikan karena ada penurunan bobot tebu,” kata Soemitro.

Meskipun kenaikan rendemen ini cukup menggembirakan, namun Soemitro menilai petani belum mendapatkan penghasilan yang optimal karena harga lelang gula yang saat ini baru Rp 8.300 per kg. Harga ini menurut Soemitro memang sudah naik dari tingkat harga pada awal musim giling yang sempat menyentuh Rp 7.250 per kg, namun masih di bawah harga lelang gula pada akhir masa giling Oktober-November 2010 yang sempat menyentuh harga Rp 9.500 per kg hingga Rp 9.600 per kg. “Dengan rata-rata harga Rp 8.000 maka per ha petani mendapatkan Rp 34 juta sementara biaya tanam Rp 25 juta, jadi pendapatannya hanya Rp 9 juta. Kalau harga bisa naik jadi Rp 9.500 saja baru petani bisa mendapat Rp 40 juta per ha dan pendapatan bersih Rp 15 juta untuk waktu setahun,” kata Soemitro.

Soemitro berharap selain harga naik, rendemen tebu bisa naik juga menjadi 10% agar petani bisa mendapatkan penghasilan yang menarik dan mereka terdorong untuk menanam tebu. Perbaikan rendemen ini perlu ditingkatkan dengan memperbaharui pabrik-pabrik gula yang sebagian besar masih peninggalan Belanda.

Dengan produksi gula 2,3 juta ton dan luas lahan 450.000 ton, berarti rata-rata produksi hanya 5,11 ton gula per Ha. Padahal pada tahun 1930-an menurut Soemitro, rata-rata produksi gula mencapai 15 ton per ha karena mesin penggilingan masih berfungsi optimal. “Seperti kalau mencuci, kalau pakai tenaga orang muda perasannya itu banyak, sementara kalau orang tua, kemampuan memerasnya sudah turun. Jadi gula kita itu banyak tersisa di ampas tebunya,” ujar Soemitro

( / Nvl)

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini