11:43 WIB
Minggu, 21 Desember 2014
Jumat, 18 November 2011 11:52 WIB

Omset Pengelolaan Apartemen Jakarta Lebihi Rp500 Miliar/Tahun

Achmad Adhito Hatanto
Menara Apartemen
Menara Apartemen

Rp500 miliar itu merupakan perhitungan konservatif. Angka tersebut sebenarnya bisa lebih besar lagi.

JAKARTA, Jaringnews.com -- Omset bisnis pengelolaan apartemen  di kawasan Jakarta bisa melebihi Rp500  miliar per tahun. Nilai tersebut berasal dari total jumlah service charge/sinking fund selama setahun yang dibayarkan penghuni ataupun pemilik unit apartemen kepada pihak manajemen apartemen. Pengamat/konsultan properti Budi Santoso menjelaskan hal tersebut di Jakarta.

Ia mengilustrasikan nilai tersebut untuk sebuah menara apartemen. Dengan asumsi bahwa satu menara  punya luas ruang 30 m2 dan saleable area di angka 80%, nilai service charge/sinking fund  yang dibayarkan per bulan yakni Rp360 juta. Bila setahun, angka itu menjadi Rp4,32 miliar. “Itu dengan asumsi bahwa besar biaya-biaya tersebut hanya Rp 15.000/m2 tiap bulan,” ucap Budi via telepon.

Bila di Jakarta sampai kuartal ketiga ada 120.000-an unit apartemen, ia menjelaskan, nilai service charge/sinking fund bisa melebihi Rp 500 miliar per tahun. Persisnya, luas per unit apartemen berkisar18 m2 sampai 150 m2. Dari sini, dapat diambil perhitungan konservatif  bahwa luas tiap unit apartemen adalah 30 m2. Maka, total luas ruang apartemen di Jakarta adalah 3,6 juta per m2.

Dari luasan 3,6 juta m2 itu, dengan asumsi bahwa saleable area sebesar 80% dan nilai service charge/sinking fund di angka Rp 15.000/m2, total nilai per bulan di angka Rp 43,2 miliar. Untuk setahun, angka itu mencapai Rp 518,4 miliar.

Kata Budi, Rp 518,4 miliar per tahun tersebut merupakan perhitungan konservatif. Bila rata-rata nilai service charge/sinking fund di angka Rp 20.000/m2, omset bisnis pengelolaan apartemen di Jakarta bisa lebih besar lagi. Demikian pula bisa rata-rata luas apartemen mengambil angka yang lebih besar, semisal 36 m2.


 

(Dhi / Dhi)
Diurutkan berdasarkan:
Minggu, 27 November 2011 13:17 WIB
Sally

Kepada Yth, Bapak Achmad Adhito Hatanto Dengan hormat Dengan surat ini saya meminta maaf sebelumnya, saya adalah satah satu penghuni apartement puri kemayoran, ingin memberi sedikit pemasukan mungkin bapak ada salah pengertian dengan pembayaran service charger dan sinking fund adalah bersifaf titipan uang dari penghuni / pemilik unit apartemen pada badan pengelola untuk dikelola segala biaya-biaya baik penerimaan maupun pengeluaran menyangkut urusan apartemen tersebut dan akan adanya laporan keuangan transparat kepada pemilik-2 unit apartement setiap tahunnya. . Dan badan pengelola dibawah pprs, sementara pprs dibentuk oleh penghuni/pemilik unit apartemen jadi adanya pemasukan uang service charge dan sinking fund pada badan pengelola dari penghuni/pemilik unit apartement setiap bulannya bukanlah omset bisnis sebagai pendapat keuntungan yang dimiliki oleh badan pengelola. Management apartement bukan bersifat komersial atau pt perusahaan dan baik badan pengelola maupun pprs bukan pemilik usaha atau pemegang saham yang mana ada pengeluaran modal usaha kerja yang akan mendapat perhitungan laba hasil omset yang akan dibagikan setiap bulannya. Oleh karna itu saya sangat keberatan dengan kata-kata yang tertera di berita bapak “omset bisnis pengelolaan apartemen di jakarta” apabila kata omset bisnis bisa dirubah dengan kata pemasukan uang. Itu lebih bagus. Demikin surat saya ini, terima kasih atas perhatiannya. Salam Sally.

Senin, 28 November 2011 14:50 WIB
adhito

Terima kasih untuk input/komentar tersebut, Bu Sally. Dalam tulisan tersebut, “omset” memang tidak disamaartikan dengan “keuntungan”. Kata “omset” tersebut lebih mengacu ke “perputaran/pemasukan uang” yang dihimpun dari iuran service charge/shinking fund penghuni apartemen. Adapun istilah “omset” digunakan mengingat, dalam sehari-hari,pengelola apartemen banyak yang mengalihdayakan (outsource) sebagian aktivitas ke pihak ketiga. Memang, ke depan, ada baiknya yang digunakan adalah istilah “perputaran uang” agar tidak menimbulkan bias penafsiran. Regards, Adhito

Berikan komentar anda:

Masukan kode dibawah ini
  
  • Terpopuler
  • Terkomentari